Pulang.
Dulunya
kata-kata ini tak berarti banyak bagiku. Tapi entah kapan tepatnya kata ini
berarti lebih dari sekedar pulang.
Aku tak
pernah pergi jauh dari rumahku. Aku tak pernah pergi jauh dari tanah
kelahiranku. Mungkin karena itu aku tak terlalu bisa memaknai apa itu Pulang.
Aku pulang
setiap hari. Aku selalu disini, di rumah. Bersama orang tuaku, adik-adikku.
Bahkan debu yang selalu menempel di ujung meja belajarku saja mungkin bosan
denganku. Karena aku selalu disini.
Sampai
akhirnya suatu hari aku mengenal seseorang yang berada jauh dari rumah. Orang
yang sudah sejak dulu memaknai pulang dengan rasa yang berbeda. Seseorang yang
ketika mendengar atau mengatakan kata “pulang” menjadi begitu special.
Begitu juga
ketika aku mengetahui bahwa dia pulang. Dan lebih bahagianya lagi karna aku
mengetahuinya sudah di rumah. Saat ini, detik ini. Akhirnya aku dan dia ada
dalam zona waktu yang sama.
Dia pulang.
Dia pulang
tak hanya membawa senyum bagi orang-orang yang merindukannya tapi juga perasaan
bahagia, haru, dan rasa-rasa lain yang tak bisa kugambarkan. Aku yakin tak hanya
aku, tapi banyak yang merindukannya.
Aku? Ah.
Entahlah ada yang merindukanku atau tidak. Aku kan selalu pulang setiap hari.
Aku di rumah.
Lucu,
tiba-tiba saja aku ingin dirindukan. Tapi bukankah menyiksa juga mengetahui
banyak orang yang menantikan kedatangan kita tapi kita tak bisa memenuhi
keinginan mereka. Mungkin karena aku belum mampu melakukan hal itu makanya aku
masih disini. Atau aku saat ini masih belum sampai hati membuat orang-orang
merindukanku. Ya rindu memang berat. Dilan benar.
Dia pulang.
Membuatku
susah berhenti tersenyum. Membuat kantukku hilang. Membuatku tak sabar menunggu
hari esok. Membuatku tak sabar merasakannya secara langsung. Membuatku tak
sabar merasakan hangat kulitnya. Membuatku tak sabar menghirup aroma tubuhnya.
Membuatku tak sabar mendengar suaranya secara langsung. Sungguh, ini sangat
ajaib. Hari ini ajaib, dia ajaib, aku ajaib, dunia ini ajaib. Tuhan juga ajaib.
Beliau yang paling ajaib. Terimakasih.
Sungguh, aku
masih susah percaya. Aku harap esok pagi aku membuka mataku lagi dan semuanya
ini tidak berubah. Dia memang pulang. Dia memang disini. Bukan lagi ratusan
kilometer jauhnya. Tapi disni, di kota yang sama. Begitu dekat.
Dia memang
pulang.
Dia pulang.
Pulang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar