Bom Waktu
Aku seperti
bom waktu. Bisa diam untuk waktu yang lama. Tidak tau kapan akan meledak. Sering
terjadi dulunya. Bisa jadi itu juga yang membuatku kehilangan beberapa hal,
beberapa orang. Atau bukan aku yang kehilangan mereka tapi mereka yang kehilanganku.
Entahlah.
Terbiasa
pura-pura nggak peduli. Terbiasa marah, diam, lalu lupa. Padahal dalam hati tak
benar-benar lupa. Sampai di satu titik, aku tak tahan. Lalu memilih pergi. Ketika
aku pergi, mereka kaget. Tapi ya begitulah. Aku bahkan kaget dengan apa yang
aku alami. Waktu itu aku menahannya bertahun-tahun, dan lalu suatu hari boom! Aku
meledak, dan pergi.
Aku pernah
pergi dari kelompok pertemananku. Alasannya? Aku tak nyaman dengan mereka. Aku
diam, tak mengungkapkannya pada mereka,
karena aku rasa tak ada gunanya juga berbicara. Memang,, terkadang aku masih
ikut bersenda gurau dengan mereka, tapi di sisi lain aku tak benar-benar masih
ada bersama mereka. Aku menghilang pelan tapi pasti, sampai akhirnya
benar-benar tak mengobrol lagi dengan mereka. Aku akhirnya membentuk kelompok
pertemananku yang baru. Tak terlalu dekat memang, tapi semuanya berjalan baik
sampai aku lulus.
Aku pernah
pergi dari orang yang aku anggap berarti selama bertahun-tahun. Awalnya aku
diam, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. Berusaha
menumbuhkan perasaan positif. Tapi ternyata, memang seharusnya aku meledak
lebih awal. Aku terlambat meledak. Atau seharusnya aku tak meledak? Tapi aku
meledak. Dan itulah yang seharusnya terjadi sebelum ledakanku membahayakan
orang lain juga.
Aku tau ini
berbahaya. Efeknya tidak berhenti hanya dengan aku pergi. Entah efek
ledaknya yang berbahaya? Atau justru aku yang berbahaya.
Atau aku
membahayakan untuk diriku sendiri?
Aku seperti
bom waktu.
Tak tau
kapan meledak.
Berhati-hatilah.
Biar aku
saja yang terluka.
Aku tak mau
menambah beban dengan melukaimu juga.
Biarkan aku
sendirian,karena aku tak tau kapan aku meledak.
Hahahahahahaha
Aku bercanda,
Aku baik-baik
saja, kok.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar