Banyak
teori-teori mengenai reinkarnasi yang beredar. Kadang terdengar seperti dongeng
pengantar tidur. Terlalu mengandai-andai. Tapi aku suka berandai-andai. Jadi
jujur saja aku menikmati setiap teori reinkarnasi yang pernah kubaca atau aku
dengar.
Aku termasuk
salah satu yang percaya kalau kehidupanku yang sekarang ini bukanlah kehidupan
pertamaku. Aku yakin sebelumnya aku pernah hidup puluhan bahkan ratusan, ribuan
atau bisa jadi jutaan. Sebelum berwujud manusia dan lahir dari rahim ibuku, aku
pernah menjadi anak dari ibu-ibu yang lain. Aku pernah menjadi laki-laki,
perempuan, manusia, hewan, tumbuhan, bahkan lumut. Salah satu teori yang pernah
aku baca, kita pertama kali ada dengan wujud elemen terkecil di universe (entah
apa), lalu mati dan hidup kembali dalam wujud yang lain. Terus menerus naik
tingkat, terus menerus memperbaiki diri, mungkin pernah mengalami jatuh bangun
atau gagal berkali-kali untuk mencapai wujud manusia.
Teori itu
membuatku sering berpikir ulang tentang bagaimana aku mensyukuri kehidupanku
sekarang. Kadang rasanya aneh. Menarik. Meski sebenarnya tak terlalu menarik
untuk disimak juga (mungkin suatu saat aku cerita, tapi percaya aja deh,
hidupku nggak semenarik itu, malah cenderung biasa aja)
Aku pernah
mendambakan hidup yang tenang, lurus, lempeng, tanpa hambatan, tanpa masalah.
Tapi ternyata itu mustahil. Justru aku perlu masalah. Masalah adalah teman
hidup. DIa selalu ada meski aku tak menyadarinya. Biasanya kusebut itu masalah
sepele, masalah kecil, sampai sampai aku tak sadar.
Begitu juga
dengan tantangan, cobaan, masalah.
Seseorang
pernah bilang, yang saat ini lagi deket sama aku (cie!), begini katanya
“Soalnya
kalau dibilang cobaan ya aku jadi ingetnya konsepnya agak salah sh, pas kita
yang kena sesuatu bilangnya cobaan, pas yang lainnya atau lebih tepatnya orang
yang ga kita senengin namanya hukuman, ya sama-sama aja sih sebenarnya”
Benar.
Jadi aku
mulai meng-upgrade cara berpikir melalui sudut pandang baru yang aku dapatkan
darinya. Kusebut setiap masalah atau tantangan yang aku temui dan kuhadapi
adalah sebuah karma, hukuman, hadiah, hasil yang aku dapatkan dari apa yang aku
perbuat entah dikehidupanku yang sekarang atau dikehidupanku yang lalu. Setiap
kena sial, aku selalu berusaha untuk tidak menyesalinya meski kadang ada
sedikit rasa sedih atau marah yang menghampiri. Tapi aku coba berpikir bahwa
dengan selesainya satu masalah dan dengan aku menghadapi masalah itu artinya
aku sudah membayar hutangku. Entah berapa banyak kesalahanku, setiap masalah
yang datang kuanggap sebagai remidi. Perbaikan. Dan aku yakin itu akan membuatku
menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Pasti.
Setelah aku
pikir-pikir aku mengerti bahwa aku lahir kedunia ini lagi pastilah membawa
misi, yang entah apa belum aku sadari sampai detik ini. Hanya saja satu yang
pasti, dan ini mungkin adalah misi semua orang.
Kita lahir
kembali untuk mengulang, memperbaiki. Tak mudah memang mencapai sempurna,
mungkin kita hanya jalan ditempat, atau mungkin malah mundur. Tapi aku berusaha
sadar, sadar akan keberadaanku. Aku disini ada untuk memperbaiki apa yang aku
rusak dulunya. Aku disini untuk menyenangkan siapa siapa yang dulunya mungkin
pernah kusakiti. Aku disini untuk menolong kembali siapa-siapa yang dulunya
pernah menolongku. Aku disini ada untuk memberi siapa-siapa yang dulu pernah
berbaik hati padaku. Seperti waktu aku kehilangan air minum yang secara asal
aku taruh di motorku. Mungkin orang tersebut sebelumnya pernah merelakan air
minumnya untukku yang sedang kehausan. Jadi aku ikhlaskan, apalagi sebenarnya
itu air sisa yang sudah sempat kuminum sedikit (Maafkan!)
Tak hanya
itu, aku datang lagi kesini untuk dapat membantu lebih banyak lagi. Meski
kadang aku merasa seperti belum ada kesempatan, kadang aku ingin membantu tapi
disaat yang sama aku sedang butuh bantuan. Tapi bagaimanapun aku berusaha
membantu sebisaku meski sedikit. Kadang pun aku tau aku masih sering tidak peka
terhadap sekitar, tapi aku tak diam saja, aku berusaha setiap harinya, berusaha
lebih berani memperbaiki diri, lebih berani bergerak, lebih berani berbuat.
Belum sempurna memang, tapi sedang kuusahakan.
Aku mencoba
semakin sadar. Kenapa aku disini. Kenapa aku mengalami hal ini, hal itu. Kenapa
aku bertemu dengan kalian? Kenapa cara berpikirku seperti ini? Kenapa berbeda
dengan yang lain? Kenapa aku tinggal disini? Kenapa kalian bisa lebih bebas?
Kenapa? Kenapa? Mungkin ada tugas yang aku bawa, mungkin sementara ini tempatku
memang disini. Entah nanti aku dimana, entah nanti aku bagaimana. Aku hanya
mengikuti arus, aku berusaha tak melawannya. Aku tau, Tuhan menuntunku. Selalu.
Aku bukan
pertama kali ada disini.
Oh, hai,
senang berjumpa denganmu lagi, sudah lama sekali ya ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar