Hai! Mungkin sebelumnya kita pernah bertemu.

Selasa, 05 Juni 2018


Banyak teori-teori mengenai reinkarnasi yang beredar. Kadang terdengar seperti dongeng pengantar tidur. Terlalu mengandai-andai. Tapi aku suka berandai-andai. Jadi jujur saja aku menikmati setiap teori reinkarnasi yang pernah kubaca atau aku dengar.

Aku termasuk salah satu yang percaya kalau kehidupanku yang sekarang ini bukanlah kehidupan pertamaku. Aku yakin sebelumnya aku pernah hidup puluhan bahkan ratusan, ribuan atau bisa jadi jutaan. Sebelum berwujud manusia dan lahir dari rahim ibuku, aku pernah menjadi anak dari ibu-ibu yang lain. Aku pernah menjadi laki-laki, perempuan, manusia, hewan, tumbuhan, bahkan lumut. Salah satu teori yang pernah aku baca, kita pertama kali ada dengan wujud elemen terkecil di universe (entah apa), lalu mati dan hidup kembali dalam wujud yang lain. Terus menerus naik tingkat, terus menerus memperbaiki diri, mungkin pernah mengalami jatuh bangun atau gagal berkali-kali untuk mencapai wujud manusia.

Teori itu membuatku sering berpikir ulang tentang bagaimana aku mensyukuri kehidupanku sekarang. Kadang rasanya aneh. Menarik. Meski sebenarnya tak terlalu menarik untuk disimak juga (mungkin suatu saat aku cerita, tapi percaya aja deh, hidupku nggak semenarik itu, malah cenderung biasa aja)

Aku pernah mendambakan hidup yang tenang, lurus, lempeng, tanpa hambatan, tanpa masalah. Tapi ternyata itu mustahil. Justru aku perlu masalah. Masalah adalah teman hidup. DIa selalu ada meski aku tak menyadarinya. Biasanya kusebut itu masalah sepele, masalah kecil, sampai sampai aku tak sadar.
Begitu juga dengan tantangan, cobaan, masalah.

Seseorang pernah bilang, yang saat ini lagi deket sama aku (cie!), begini katanya
“Soalnya kalau dibilang cobaan ya aku jadi ingetnya konsepnya agak salah sh, pas kita yang kena sesuatu bilangnya cobaan, pas yang lainnya atau lebih tepatnya orang yang ga kita senengin namanya hukuman, ya sama-sama aja sih sebenarnya”

Benar.
Jadi aku mulai meng-upgrade cara berpikir melalui sudut pandang baru yang aku dapatkan darinya. Kusebut setiap masalah atau tantangan yang aku temui dan kuhadapi adalah sebuah karma, hukuman, hadiah, hasil yang aku dapatkan dari apa yang aku perbuat entah dikehidupanku yang sekarang atau dikehidupanku yang lalu. Setiap kena sial, aku selalu berusaha untuk tidak menyesalinya meski kadang ada sedikit rasa sedih atau marah yang menghampiri. Tapi aku coba berpikir bahwa dengan selesainya satu masalah dan dengan aku menghadapi masalah itu artinya aku sudah membayar hutangku. Entah berapa banyak kesalahanku, setiap masalah yang datang kuanggap sebagai remidi. Perbaikan. Dan aku yakin itu akan membuatku menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Pasti.

Setelah aku pikir-pikir aku mengerti bahwa aku lahir kedunia ini lagi pastilah membawa misi, yang entah apa belum aku sadari sampai detik ini. Hanya saja satu yang pasti, dan ini mungkin adalah misi semua orang.
Kita lahir kembali untuk mengulang, memperbaiki. Tak mudah memang mencapai sempurna, mungkin kita hanya jalan ditempat, atau mungkin malah mundur. Tapi aku berusaha sadar, sadar akan keberadaanku. Aku disini ada untuk memperbaiki apa yang aku rusak dulunya. Aku disini untuk menyenangkan siapa siapa yang dulunya mungkin pernah kusakiti. Aku disini untuk menolong kembali siapa-siapa yang dulunya pernah menolongku. Aku disini ada untuk memberi siapa-siapa yang dulu pernah berbaik hati padaku. Seperti waktu aku kehilangan air minum yang secara asal aku taruh di motorku. Mungkin orang tersebut sebelumnya pernah merelakan air minumnya untukku yang sedang kehausan. Jadi aku ikhlaskan, apalagi sebenarnya itu air sisa yang sudah sempat kuminum sedikit (Maafkan!)

Tak hanya itu, aku datang lagi kesini untuk dapat membantu lebih banyak lagi. Meski kadang aku merasa seperti belum ada kesempatan, kadang aku ingin membantu tapi disaat yang sama aku sedang butuh bantuan. Tapi bagaimanapun aku berusaha membantu sebisaku meski sedikit. Kadang pun aku tau aku masih sering tidak peka terhadap sekitar, tapi aku tak diam saja, aku berusaha setiap harinya, berusaha lebih berani memperbaiki diri, lebih berani bergerak, lebih berani berbuat. Belum sempurna memang, tapi sedang kuusahakan.

Aku mencoba semakin sadar. Kenapa aku disini. Kenapa aku mengalami hal ini, hal itu. Kenapa aku bertemu dengan kalian? Kenapa cara berpikirku seperti ini? Kenapa berbeda dengan yang lain? Kenapa aku tinggal disini? Kenapa kalian bisa lebih bebas? Kenapa? Kenapa? Mungkin ada tugas yang aku bawa, mungkin sementara ini tempatku memang disini. Entah nanti aku dimana, entah nanti aku bagaimana. Aku hanya mengikuti arus, aku berusaha tak melawannya. Aku tau, Tuhan menuntunku. Selalu.

Aku bukan pertama kali ada disini.
Oh, hai, senang berjumpa denganmu lagi, sudah lama sekali ya ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS