Hai! After a long time, i am here.
Lagi pengen ngomongin keadaanku saat ini. Pertengahan bulan juli tahun 2021.
Over all i am okay. Good enough and still survive. Fyi, corona is still excist. But thats fine for me, even its not fine for someone else. Yah perlu di akui juga corona dan pandemi ini lah yang membawa ku ke keadaan yang sebenarnya sudah aku bayangkan sejak dulu.
Menjalankan bisnis, dan akhirnya punya waktu untuk fokus mengembangkannya.
Memang, corona yang membawaku resign, keluar dari zona nyaman, yang sebenarnya tidak nyaman nyaman banget juga. Mengambil banyak keputusan keputusan kecil yang akhirnya membawaku ke dalam hal besar. Makin lama makin ambisius, dan memaksakan energy yang sudah semakin menipis ini untuk memenuhi ambisi ku yang makin hari nampaknya semakin hebat saja.
Berita buruknya adalah, aku makin lama semakin mudah tersulut. Sepercik keputus asaan bisa membuatku jatuh ke lubang nestapa. Mengutukin diri sendiri, bertanya tanya kenapa aku tak begini, mengapa aku tak begitu? Mungkin benar kata mereka, dunia ini tidak pernah baik, masa depan suram. Mungkin benar kata mereka, impian impian itu ga ada artinya. Mungkin benar apa yang mereka rasakan, putus asa, bingung, gak ada yang bisa bantu. Meski for some reason yang bisa bantu diri kita sebenernya ya cuma diri sendiri.
Memang kita berjuang, untuk mereka sekeras ini, meski mereka tak melakukan hal yang sama. Tapi tak apa, ketika alasan kita utk melakukan adalah utk kita sendiri, karena kita mau. Karena kita ingin, dan karena kita percaya.
Berita buruk lainnya, aku sedang mempertahankan ambisi itu, karena jika itu hilang, maka hilang juga harapanku untuk masa depan yang lebih baik. Mempertahankan ambisi ketika sekitar mulai kehilangan ambisi mereka. Mempertahankan nyala harapan ketika sekitar memilih untuk memadamkannya dan mundur perlahan. Sungguh sering kali aku merasa hal yang sama. Satu hari aku bisa jadi produktif, di hari lain aku mungkin adalah pribadi paling suram.
I keep talking, bcs if i am quite i ll be so dying. Apa yang aku bilang ga bener bener aku rasakan. Semangat dan kepercayaan diri itu ga 100% ada. Aku hanya sedang meyakinkan sisi suram diriku untuk kembali lagi bersinar. Meski ia tau, aku sedang pura pura semangat saja. Terbawa emosi ketika yang lain terderngar putus asa. Seperti pimpinan perang yang menyemangati pasukannya, padahal sebagai pemimpin tak yakin akan benar benar menang.
Tapi lebih baik mati di medan perang, daripada mati karena penyesalan tidak pernah berjuang dan hanya menonton di barisan belakang. Bersembunyi di tenda darurat. Lebih memalukan.
Mungkin aku akan maju sekali lagi. Berperang meski harus kesakitan dan penuh luka. Meski harus bertarung sambil menangis, atau menertawakan musuh yang sama sama ambisiusnya. Meski pada akhirnya yang aku lakukan tak ada artinya, meski pada akhirnya aku tak sampai juga, meski pada akhirnya ini hanya akan jadi cerita yang tak selesai, tapi tak apa. Karena sesungguhnya ini memang masih jauh dari kata selesai. Paling tidak, sudah berusaha untuk menyelesaikannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar